Beranda > Uncategorized > Perencanaan Kas dan Utang Negara

Perencanaan Kas dan Utang Negara

Dari diskusi di facebook perihal perencanaan kas terdapat beberapa hal menarik yang saya rasa perlu diungkap dalam artikel ini. Diskusi ini dimulai dengan pernyataan Miftah Wazni yang berpendapat bahwa bila kita melakukan perencanaan kas dengan baik, diharapkan negara dapat melakukan menghematan pengeluaran anggaran dari penerbitan surat utang sebesar 280 milyar rupiah per tahun dan terbebas dari kewajiban membayar hutang bunga pinjaman sebesar 14 milyar rupiah per tahun, bahkan terdapat potensi penerimaan negara sebesar 2,3 trilyun rupiah. Jumlah ini dihitung berdasarkan suku bunga 5% per tahun dan asumsi yang digunakan pada APBN tahun 2010.

Hal ini disebabkan karena perencanaan kas dapat memberikan informasi perihal jumlah kebutuhan dana pada periode tertentu sehingga Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai Bendahara Umum Negara dapat memperkirakan jumlah kebutuhan dana yang harus disediakan dan dapat mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan pada periode yang bersangkutan. Akibat kurangnya informasi perihal kebutuhan dana ini, pengelolaan kas menjadi hal yang rumit. Bila perencanaan kas tidak sesuai dengan kebutuhan, kelebihan kebutuhan ini ditutup dengan surat hutang yang akan menambah beban APBN.

Menurut Eko Sumando, perlu adanya pedidikan kepada satuan kerja karena paradigma manajemen keuangan saat ini adalah “let the manager manage”. Sehingga untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang efektif dan efisien setiap pimpinan satuan kerja harus dapat menerapkan manajemen keuangan di lingkungan kerjanya. Usaha untuk mewujudkan perencanaan kas yang baik telah dimulai sejak tahun 2007 bersamaan dengan implementasi Treasury Single Account. Setiap bulan, saudara Eko Sumandono beserta kepala seksi bendum (bendahara umum) membuat cash forecasting, namun akibat satuan kerja yang tidak melakukan perencanaan kas dengan baik, cash forecasting yang dihasilkan menjadi perencanaan yang sangat berbeda dengan kenyataan.

Dalam implementasi aplikasi perencanaan kas terdapat beberapa hambatan. Amin Nursudi mengungkapkan bahwa perencanaan kas ini hendaknya dilakukan secara bertahap mengingat terdapat satuan kerja yang mengalami hambatan geografis, misalnya lokasi satuan kerja terletak di daerah terpencil.

Dari sisi kebijakan, menurut Miftah Wazni, perlu dibuat suatu kebijakan yang memberikan sangsi kepada satuan kerja berupa penundaan pembayaran SPM (Surat Perintah Membayar) bila satuan kerja yang bersangkutan belum membuat perencanaan kas.

Dan dari sisi aplikasi, Miftah Wazni menuturkan bahwa pengembang aplikasi perencanaan kas menyediakan fasilitas perencanaan kas berbasis SMS (Sort Message Service) untuk mempermudah satuan kerja. Mengenai data yang menjadi masukan dalam aplikasi perencanaan kas, Hafiiz Yusuf mengungkapkan bahwa tidak semua satuan kerja memiliki data berupa softcopy yang berasal dari aplikasi RKAKL (Rencana Kerja Anggaran Kementrian atau Lembaga) sedangkan data masukan untuk gaji dapat diperoleh dari aplikasi Gaji yang merupakan data pegawai yang dapat diyakini kebenarannya. Data yang berasal dari aplikasi Gaji tidak dapat disamakan dengan data masukan yang berasal RKAKL karena data ini merupakan data pada awal tahun anggaran sehingga terdapat kemungkinan perubahan data setelah awal tahun. Namun menurut Miftah Wazni, berdasarkan prinsip “setiap manajer keuangan berhak mengelola dananya”, setiap pimpinan satuan kerja harus dapat melakukan perencanaan kas dan seharusnya mengetahui setiap angka yang dilaporkan.

Lebih jauh mengenai pertimbangan keputusan utang, Wahyu W. Notokusuman berpendapat bahwa keputusan penentuan utang negara dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya, utang negara dapat diperoleh dari penerbitan obligasi retail dengan bunga 10% atau dari IMF dengan bunga sebesar 2%. Keputusan pengambilan utang ini tidak diambil hanya berdasarkan besarnya bunga yang harus dibayar namun harus diperhatikan LOI yang disetujui dalam perjanjian utang. LOI yang diberi IMF atau World Bank adalah faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan pengambilan utang karena dapat berdampak pada perekonomian negara. Perihal keputusan pengambilan utang ini, Miftah Wazni berpendapat bahwa memilih utang kurang lebih sama dengan memilih wanita, tidak bisa dilihat fisik semata karena hanya akan menguras pikiran dan emosi.

Catatan: nama-nama yang disebut dalam artikel ini adalah nama pengguna dalam aplikasi facebook, penulis tidak dapat memberikan jaminan kesesuaian antara nama tersebut dengan nama aslinya.

Kategori:Uncategorized
  1. Maret 22, 2010 pukul 12:59

    wkwkwk… anda layak jadi jurnalis!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: